cerpen : Diterpa Rasa Bosan

oleh Abelia Rahmadini

Hari libur semester telah tiba , melihat suasana terkekang dan menakutkan  ini membuatku tak bisa menghabiskan waktu libur di luar rumah. Suasana ini hadir karena adanya pandemi virus covid-19. Ya,covid siapa yang tak mengenalnya, seluruh dunia telah menyapa kehadiran dirinya.  Ia virus yang tak terlihat dan mematikan. Sudah berjalan kurang lebih 1 tahun pandemi covid hadir, dan sudah ke dua kalinya libur semester ku terus diam di rumah. Banyak keluh kesah yang ku lontarkan dari mulutku,rasanya seperti hidup di bumi yang tak ada penghuninya, sunyi dan sepi yang ku lalui setiap hari. Sudah terlalu lama aku diam dirumah di tambah dengan adanya ppkm yang di perpanjang ini membuat ku jenuh . Hati dan pikiran ku terus bertarung memikirkan apa yang harus ku lakukan sekarang. aku tidak boleh berlarut-larut dalam kebosanan ini ,aku harus produktif walaupun hanya dirumah aja. Aku terus memikirkan cara  bagaimana aku bisa menghabiskan waktu ku dengan hal yang berguna.

Di sore hari, ketika matahari mulai menenggelamkan sinarnya aku pergi ke suatu tempat yaitu di tepi pantai. Tempat biasa yang sering ku datangi. Bersama udara segar aku mulai termenung memikirkan cara untuk aku bisa melangkah dan menghabiskan waktu libur  ku dengan hal yang berguna . Hampir satu jam aku termenung sendiri dengan menatap air laut yang tenang.Hingga akhirnya aku dihampiri  dengan sosok laki laki paruh baya ,mengenakan pakaian yang kumal dan bau badan yang menyengat. Aku terdiam dan berkata dalam hati ” siapa dia,jangan-jangan orang gila” pikirku. Laki-laki itu dengan wajah lelah duduk disebelah ku. Aku tak menyapa karna kupikir dia tak mau bicara. Tapi tak disangka, ternyata dia dengan ramah menyapaku.

“Permisi nak. Sedang apa kau sendiri disini ?” tanya laki -laki paruh baya itu dengan senyuman lebar.

“Iya pak,  saya hanya  duduk disini sambil menikmati indahnya matahari terbenam” jawab ku dengan nada santai.

“Oh begitu,boleh saya duduk disini nak? ” tanya nya “Ya, tentu boleh” ujar ku

Sudah cukup lama, aku dan laki-laki paruh baya itu duduk di batu besar sambil melihat lautan luas. Aku melihat dirinya yang tua dan rapuh itu seakan ingat ayahku yang sudah lama meninggal dunia. Hingga akhirnya dengan rasa canggung aku menyapa dan mengajaknya bicara.

“Bapak sedang menunggu seseorang?” Tanya ku dengan canggung.

“Tidak, saya hanya lelah berjalan jauh untuk mencari barang bekas dan saya ingin istirahat dulu” jawab pria paruh baya dengan suara lirih.

“Wah! dugaan ku salah ternyata dia bukan orang gila” kata ku dalam hati.

“Pantas saja, wajah bapak terlihat sangat lelah” ujar ku.

“Iya nak, maklumi saja” saut pria itu.

“Apa bapak masih ada keluarga? ” tanya ku.

“Masih, bapak tinggal bersama istri dan 4 orang anak”jawabnya.

“Kalau boleh tau, apakah pekerjaan bapak hanya mencari barang bekas?” tanya ku dengan rasa penasaran. “Tidak nak, sebelumnya bapak pekerja kantoran tetapi semanjak ada pandemi covid-19 bapak di rumahkan karna kantor tempat bapak bekerja bangkrut semenjak  ada pandemi ini. Sehingga bapak bingung tidak tahu harus bagaimana dan cari kerja dimana lgi. Banyak perusahaan yang tidak mau menerima bapak dengan alasan adanya pandemi banyak karyawan yang dirumahkan. Tapi bapak harus semangat dan percaya diri hingga Pada akhirnya bapak memilih jalan untuk mencari barang bekas dan bapak kelolah sebagai kerajinan tangan. Cara ini bapak lakukan agar bapak terus berinovasi dan kreatif dalam memanfaatkan waktu luang agar lebih produktif. Dan bapak jug bisa menafkahi keluarga bapak dengan hasil kerajinan tangan ini walaupun ga banyak uangnya tapi cukup”. Jawabnya dengan jelas.

Aku terkejut dan sangat antusias mendengar cerita dari laki-laki paruh baya yang memiliki jiwa semangat besar untuk bertahan hidup di tengah situasi pandemi covid-19 ini. Aku menjadi malu pada diriku sendiri aku sebagai anak muda tidak memiliki jiwa semangat yang luar biasa seperti laki-laki paruh baya itu.

“Aku sangat bangga padamu pak, kau sudah tua seperti ini masi memiliki jiwa semangat yang tinggi ” ujarku dengan pujian.

“Iya nak, kita hidup di dunia ini bukan untuk mengeluh dan bermalas-malasan. Apalgi kita sekarang berada di situasi seperti sekarang ini, semakin sulit untuk hidup”. Jelasnya.

“Iya benar pak”

“Kau ada masalah apa nak?, wajah mu terlihat murung dan bingung? ” tanya pria paruh baya.

“Tak ada masalah pak, hanya saja aku sedang memikirkan cara bagaimana aku bisa menggunakan waktu ku dengan tak sia-sia, sekarang aku sedang libur semester tak ada kegiatan lain selain aku belajar. Aku sudah cukup bosan untuk terus diam dirumah tanpa menyibukan diri dengan hal yang berguna ,Waktu ku habis begitu saja dengan sia-sia”. Jawabku dengan resah.

“Kenapa kau tak pergi main atau liburan bersama teman-teman mu? ” tanya nya.

“Mereka tak mendapat izin untuk keluar rumah oleh orang tua mereka karena adanya pandemi dan ditambah lagi adanya ppkm yang di perpanjangan jdi jalanan sepi tempat tongkrongan tutup lebih awal”. Jawabku.

“Kenapa kau tak coba mencari  kerja untuk mengisi waktu luang?”

“Sudah ku coba pak, aku sudah melamar di beberapa perusahan dan rumah makan tapi tak ada panggilan sampai sekarang”.

“Malang sekali , kau masi muda sayang kalau waktu mu terbuang sia-sia. Coba mulai sekarang kau mulai membuat rencana untuk tujuan mu kedepannya. Kau harus semangat jangan mengeluh atas keresahanmu,Banyak orang di luar sana yang mengalami seperti dirimu dalam situasi pandemi ini. Tapi kau anak muda, jangan hanya menjadi patung di tengah krisisnya dunia, kau punya akal ,kau punya kemampuan. Buktikan dirimu bisa! Bisa menjadi agen perubahan di tengah kehidupan pandemi covid -19 ini.”

Dukungan yang di lontarkan dari laki-laki paru baya itu membuat diriku menjadi semangat dan yakin bahwa aku bisa memanfaatkan waktu libur ku dengan sebaik-baiknya.

Aku pun pada akhirnya meminta saran pada laki-laki paru baya itu untuk ku agar aku bisa menggunakan waktu libur ku dengan hal yang bermanfaat.

“Apa bapak punya saran untukku agar aku bisa menggunakan waktu libur ku dengan hal yang bermanfaat ? ” tanya ku.

“Saran bapak,jika dirimu suka menulis karanglah sebuah cerita sehingga kau bisa menjadikan cerita itu sebagai motivasi semua orang atau Barang bekas pun bisa kau sulap menjadi wadah, pajangan, atau koleksi .

Melakukan kegiatan ini dapat meningkatkan kreativitas. Sedangkan kreativitas yang tinggi dapat melatih untuk menggunakan ide-ide baru dalam memecahkan masalah yang tidak terduga nantinya.” saran bijak pria paruh baya itu. Saran yang di berikan oleh laki-laki paruh baya itu aku terima dengan baik,dan aku

sudah memiliki rencana apa yang akan aku lakukan untuk menghabiskan masa libur ku.

Suasana  mulai petang, aku memutuskan untuk segera pulang kerumah. Tak lupa ucapan terima kasih ku berikan pada pria paruh baya yang sudah mendengarkan keluh kesah ku dan memberikan dukungan serta saran yang baik sehingga aku bisa semangat kembali. Hari-hari ku jalani dengan percaya diri dan semangat yang tinggi, masa libur panjang ini ku isi dengan kegiatan yang dapat meningkatkan kreativitas ku yaitu menulis .Menulis adalah cara ku untuk mengisi masa libur di tengah situasi pandemi covid-19 ini. Hampir setiap hari aku menulis, entah itu menulis cerpen,puisi,ataupun menulis buku harian. sudah cukup banyak karya tulis yang aku buat di buku ku . Aku melakukannya dengan senang hati ,karena dengan menulis waktu libur semester ku ini tak sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.